Letaknya yang tinggi dengan hawa yang sejuk menjadikan Matesih sebagai kawasan peristirahatan. Sebagai wilayah kerajaan Surakarta Hadiningrat, dahulu para raja sering mendatangi daerah ini. Sampai-sampai melegenda dimasyarakat bahwa Matesih berasal dari kata Mat - tesih. yang artinya mat=jimat=pusaka, tesih=masih ada.
syahdan raja surakarta suatu ketika 'meninjau' wilayahnya dengan berkendaran kereta kuda. Daerah yang masih banyak hutan memungkinkan raja untuk sekalian berburu sambil menenangkan pikiran dari hiruk-pikuk keadaan istana yang membebani. Beserta rombongan keraton berangkatlah mereka kehutan dikawasan timur kraton surakarta. Berjalan beriringan selama beberapa jam sampailah mereka dikawasan hutan yang berbukit-bukit. Begitu letih akhirnya rombongan raja tersebut beristirahat sejenak menghilangkan lelah dan penat.
Hidanganpun digelar oleh abdi dalem, segala perbekalan dikeluarkan untuk dihidangkan dan disantap bersama rombongan. Setelah menyantap hidangan tersebut ternyata rombongan dan baginda raja tertidur pulas dikarenakan letih yang mendera. Setelah beberapa saat, baginda tiba-tiba terbangun dan memerintahkan untuk segera pulang kembali ke keraton. Ketika perjalanan pulang sudah cukup jauh, tiba-tiba baginda merasa ada yang kurang. ternyata senjata pusaka baginda tertinggal ditempat rombongan beristirahat. Akhirnya, baginda raja memutuskan untuk kembali menelusuri perjalanan dimana raja beristirahat untuk mencari pusaka yang tertinggal.
ternyata sesampainya tempat beristirahat tersebut, pusaka/jimat baginda raja masih ada/tesih. sehingga raja pun memberi nama tempat tersebut dengan MATESIH...
dan nama itu menjadi nama sebuah kecamatan disebelah timur kota solo kurang lebih 30 km, sampai sekarang.
Selasa, 29 Desember 2009
Selasa, 28 Juli 2009
Matesih Nan Syahdu
Matesih, kota kecamatan, kota kecil dikaki Gunung Lawu. Hawanya sejuk dan nyaman khas pegunungan. udara yang bersih dan sangat baik untuk kesehatan. jauh berbeda dengan udara perkotaan yang penuh polusi dan kesemrawutan kendaraan.
Bila mentari pagi tersenyum dibalik lesung pipit gunung dan lembah, menjadikan nuansa damai dihati. menentramkan jiwa-jiwa yang gersang dengan hiruk-pikuk nya kota dan keserakahan materi. rona merah mentari bagaikan pipi seorang gadis yang malu-malu menampakkan dirinya dihadapan sang pujaan hati, menyapu lembut seluruh celah lembah dan ngarai. bukit-bukit menyembul gagah seolah para ksatria perkasa yang tak lekang oleh waktu dan jaman.
burung-burung berkicau riang, mengguratkan harapan dan keceriaan anak-anak manusia. bergeliat riang disarang dengan cinta menyelimuti anak-anaknya yang berkikik..subhanalloh..maha suci dan kasih sayang Sang Pencipta..(bersambung..)
Bila mentari pagi tersenyum dibalik lesung pipit gunung dan lembah, menjadikan nuansa damai dihati. menentramkan jiwa-jiwa yang gersang dengan hiruk-pikuk nya kota dan keserakahan materi. rona merah mentari bagaikan pipi seorang gadis yang malu-malu menampakkan dirinya dihadapan sang pujaan hati, menyapu lembut seluruh celah lembah dan ngarai. bukit-bukit menyembul gagah seolah para ksatria perkasa yang tak lekang oleh waktu dan jaman.
burung-burung berkicau riang, mengguratkan harapan dan keceriaan anak-anak manusia. bergeliat riang disarang dengan cinta menyelimuti anak-anaknya yang berkikik..subhanalloh..maha suci dan kasih sayang Sang Pencipta..(bersambung..)
Langganan:
Postingan (Atom)